pemprov sumsel mengucapkan selamat idul fitri 1439H
pemprov sumsel mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa 1439H
Digital Ekonomi

Akun Robot Pengaruhi Opini Publik

“Media konvensional membentuk opini publik dengan melakukan agenda setting,”

foto : ilustrasi

SUMSELTERKINI.ID, Jakarta – Ketua Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) Rudi Lumanto mengatakan kebohongan atau kesalahan informasi yang ada di pemberitaan media disebarluaskan dan “dibesarkan” secara daring didukung algoritme media sosial untuk memengaruhi opini publik.

“Media sosial digunakan untuk memengaruhi opini publik. Media konvensional membentuk opini publik dengan melakukan agenda setting,” kata Rudi melalui siaran pers dari Center for Strategic Development Studies (CSDS) melansir Warta Ekonomi.co.id, Senin (12/3/2018).

Rudi mengatakan, selain melakukan agenda setting, media massa juga mengajukan pertanyaan atau isu yang dianggap penting dan mengabaikan isu yang dinilai tidak penting meskipun kenyataan yang terjadi di masyarakat sebaliknya.
Dia mencontohkan isu pemanasan global yang gencar dikampanyekan di seluruh dunia, padahal sejumlah negara sebenarnya memiliki isu lain yang sebenarnya lebih penting.

“Di Indonesia, misalnya, yang lebih mengerikan adalah polusi air sungai dan laut, polusi udara dan sampah di darat, serta kerusakan hutan tropis. Semua itu tenggelam oleh isu pemanasan global yang abstrak bagi sebagian orang awam,” tuturnya.
Penelitian Samuel Wolley dan Philip Howard tentang propaganda komputasional berskala global mengamati penggunaan media sosial untuk memengaruhi opini publik di sembilan negara, yaitu Rusia, Taiwan, Brazil, Kanada, China, Jerman, Polandia, Ukraina, dan Amerika Serikat.

Penelitian itu menemukan 45 persen akun Twitter aktif di Rusia ternyata robot, termasuk yang konon digunakan untuk memengaruhi pemilihan umum di Amerika Serikat pada 2016 sehingga memenangkan Donald Trump dan menyingkirkan Hillary Clinton.
Di Taiwan, ribuan akun media sosial yang sangat terkoordinasi tapi tidak sepenuhnya robot digunakan untuk menyerang Presiden Tsai Ing-wen yang berbeda pandangan dengan pemimpin Republik Rakyat China.

“Akun robot atau terkontrol itu menciptakan ilusi tentang popularitas dunia maya, termasuk isu yang dianggap penting dan genting,” katanya.[WE]

Comments

Terpopuler

To Top